Warga Karo Panen Dini di Tengah Erupsi Sinabung

Warga Karo Panen Dini di Tengah Erupsi SinabungNAMANTERAN – Gejolak erupsi Gunung Sinabung di Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo, masih tinggi dengan status awas (level IV). Meski abu vulkanik melanda lahan pertanian mereka, petani di kawasan lereng Sinabung tidak putus asa dan tetap panen dini.

Seperti dialami petani tomat Desa Sukandebi Kecamatan Naman Teran yang melakukan panen dini tomat, tepat dalam kawasan enam kilometer dari sebelah utara Sinabung. Mereka menanggung rugi dari panen dini disebabkan harga yang jauh menurun dari sebelumnya.

“Tidak bisa diharapkan lagi, tomatnya penuh abu vulkanik. Ibarat manusia tidak bisa bernafas. Kecuali empat hari empat malam hujan baru bisa diharapkan,” ungkap Kelowot Tarigan, Rabu (25/5).

Dikatakan, harga jual di pasaran juga turun drastis yang bisa ditampung di Pasar Induk Medan dengan nilai jual paling tinggi Rp2.000 atau Rp1.500 per kg. Sementara itu, harga sebelumnya mencapai Rp4.000 sampai Rp6.000 per kg.

“Kalau dibilang rugi, pasti kita rugi. Di mana modal tanam kita mencapai Rp20 juta untuk masa tanam. Sementara saat ini untuk kembali modal setengah saja atau Rp10 juta tidak cukup. Tapi itu tetap kita syukuri. Daripada kita yang mati, bagus tanaman kita saja yang mati terkena abu vulkanik,” ungkapnya.

Meski lokasi zona merah telah dipasang portal dan dijaga petugas dari TNI AD, sejumlah warga Desa Berastepu dan Kuta Tengah secara sembunyi-sembunyi terlihat masih beraktivitas di lahan pertaniannya dengan memasuki areal terlarang.

Di pintu masuk Desa Kuta Tengah, sejumlah warga mencoba masuk ke lokasi yang telah dipasang portal dan menunggu kesilapan petugas di sekitar portal. Pengakuan warga nekad masuk ke lokasi zona merah disebabkan lokasi perladangan mereka bukan jalur luncuran awan panas seperti di Desa Gamber.

Hal senada disampikan Paken Sembiring Milala, 81 tahun, Warga Desa Berastepu ini menyebut luncuran awan panas memiliki jalur khusus seperti di beberapa desa yang telah direlokasi.

“Sejak dipasang portal antara Berastepu dan Kuta Tengah beberapa tahun lalu, warga bercocok tanam karena selama berada di posko pengungsian tidak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya makan, minum, dan tidur tanpa kegiatan membangun ekonomi keluarga,” pungkas Paken. (wol/aa/waspada/data2)

Sumber: waspada.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.