Berita Madina

Petani di Huraba Produksi Padi 118 Kaleng Per Bun-Bun

Inovasi Baru Petani di Huraba, Produksi Padi 118 Kaleng Per Bun-Bun
SIABU – Seorang petani bernama Edi Ibrahim di Desa Huraba Kecamatan Siabu, Mandailing Natal (Madina) berhasil memperoleh hasil produksi padi sebesar 118 kaleng per bun-bun untuk varietas Inpari Sidenuk dan 150 kaleng untuk varietas Siganteng.

Perolehan ini berkat inovasi perlakuan pola baru pada tanaman padi yang diterapkan Edi Ibrahim.

Satu bun-bun setara dengan 1/6 hektar. Sedangkan 1 kaleng setara dengan sekitar 10 hingga 12 kilo gram gabah basah.

Angka produksi ini terbilang bagus, sebab, selama ini dengan perlakuan biasa hanya mampu memproduksi sekitar 60 kaleng per bun-bun di kawasan itu untuk varietas Inpari Sidenuk.

Demikian dipaparkan Edi Ibrahim dalam acara Rembug Ke-2 Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Madina di lokasi pembibitan KTNA, Desa Simaninggir, Kecamatan Siabu, Selasa (4/8).

Rembug KTNA ini merupakan pertemuan rutin organisasi KTNA dari semua tingkatan dalam mengumpulkan seluruh inovasi dan temuan-temuan baru para petani serta kendala-kendala di sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan.

Edi Ibrahim mengungkapkan, inovasi yang dilakukannya sejauh ini sudah diterapkan pada dua varietas padi, yakni varietas Inpari Sidenuk dan varietas Siganteng. Untuk varietas Siganteng tingkat produksinya malah lebih tinggi yakni 150 kaleng per bun-bun.

Dipaparkannya, perlakuan pada tanaman padi ini mulai dari metode umur persemaian, pola pengolahan dan pengeringan lahan, jadwal pemupukan dan jenis pupuk.

Untuk pengolahan lahan dilakukan dengan pola cangkul memakai hand traktor dengan kedalaman cangkul standar. Sementara umur bibit dipersemaian hanya 8 hari sebelum ditanam. Jumlah bibit yang ditanam hanya 1 hingga 2 batang per rumpun dengan pola tanam sistem legowo. Sehingga dalam 1 bun-bun hanya membutuhkan bibit sebanyak 6 kg.

Umur bibit yang hanya 8 hari ini masih sulit dijumpai di kawasan Mandailing Godang, karena umumnya para petani selama ini menunggu umur bibit di persemaian sekitar 3 minggu sebelum ditanam.

Begitu juga dengan jumlah batang yang ditanam per rumpun, selama ini petani menerapkan jumlah bibit antara 4 hingga 6 batang bibit per rumpun.

Yang tak kalah menarik dari inovasi ala Edi Ibrahim ini adalah pola pengeringan lahan. Ibrahim melakukan pengeringan lahan pasca tanam hingga tanah pecah atau retak-retak.

Pola pengeringan ini berbeda dengan pola selama ini dimana lahan dikeringkan hanya dalam rentang sebelum tanah pecah. Petani selama ini menghindari pengeringan hingga tanah pecah karena kekhawatiran pada kematian bibit yang baru ditanam.

Pupuk organik butiran ditaburkan 1 hari sebelum air dialirkan. Kebutuhan pupuk organik butiran sebanyak 6 karung untuk 1 bunbun. Pemupukan dilakukan 3 kali, yakni setelah tanah pecah pasca tanam, 25 hari setelah tanam dan 55 hari setelah tanam.

Rembug KTNA ini dipimpin Ketua KTAN Madina, Rosmala Dewi dan dimediasi Ahli Andalan KTNA Madina, Ponimin serta dihadiri fungsionarsi KTNA Kabupaten Madina dan pengurus KTNA Kecamatan se-Madina.

Dari Badan Penyuluh Pertanian dan Ketahanan Pangan Madina hadir Sekretaris, Miswar dan Kabid Kelembagaan, Sahminan Nasution. Dari Dinas Pertanian Peternakan Madina hadir Kabid PLA, Ahmad Husin Siregar. Dari Bagian Perekonomian Pemkab Madina hadir Kasubbag Produksi Pertanian, Zoro.

Sumber: MandailingOnline.com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *