Berita Nasional

NU dan Muhammadiyah Kompak, Ormas Ini yang Beda

NU dan Muhammadiyah Kompak, Ormas Ini yang BedaJAKARTA – Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah berpotensi kompak dalam penentuan awal Ramadan. Diketahui, PP Muhammadiyah telah memutuskan awal Ramadan jatuh pada 6 Juni.

Kepala Lapan Thomas Djamaluddin menuturkan, tinggi hilal pada 5 Juni sudah memenuhi kriteria rukyatulhilal yang menjadi standar NU.

Namun, ormas berpengaruh lainnya, yakni Persis, diperkirakan akan berbeda. “Untuk acuan Persis belum memenuhi kriteria,” kata Thomas kemarin.

Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudulhilal. Lewat patokan itu, bulan baru tiba ketika sudah terjadi ijtimak atau konjungsi dan bulan terbenam sebelum terbenamnya matahari.

Sebaliknya, NU menganut imkanurrukyat atau bulan baru harus terlihat dengan mata telanjang (tinggi hilal minimal 2 derajat).

Sementara itu, untuk Persis, ketinggian hilal 4-6 de­rajat. Berdasar hisab Muhammadiyah, tinggi bulan pada saat terbenam matahari di Jogjakarta pada 5 Juni adalah lebih dari 4 derajat 1 menit 58 detik.

Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Machasin mengatakan, sidang isbat 1 Ramadan dilaksanakan 5 Juni. Kemudian, sidang isbat 1 Syawal diadakan 4 Juli.

Dia menuturkan, Ramadan tahun ini akan berdurasi 30 hari. Sebab, posisi hilal pada 4 Juli masih minus. Dengan demikian, durasi bulan puasa digenapkan (istikmal) jadi 30 hari.

“Sehingga insya Allah 1 Syawal juga kompak 6 Juli,” tuturnya. Muhammadiyah juga telah menetapkan Lebaran pada 6 Juli.

Machasin menjelaskan, masyarakat sudah tidak lagi perlu berdebat soal kompak dan perbedaan penetapan hari besar Islam. Sebab, setiap ormas Islam memiliki kriteria sendiri.

Khusus untuk Persis, Machasin mengatakan, keputusan 1 Ramadan mengikuti sidang isbat Kemenag. Bagi dia, Persis belum pasti berbeda dalam mengawali bulan puasa. (wan/JPG)

Sumber: JPNN.com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *