Kemenag adakan Festival Gordang Sambilan tingkat Madrasah Aliyah Se-Provinsi Sumatera Utara

Diskominfo – Madina. Bupati Mandailing Natal Drs. H. Dahlan Hasan Nasution di wakili oleh Sekretaria Daerah Kabupaten Mandailing Natal Gozali Pulungan, SH, MM buka acara Festival Gordang Sambilan Tingkat Madrasah Aliyah Se-Provinsi Sumatera Utara di Lapangan Sekolah MAN 1 Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Jum’at, 29/11/2019.

Festival Gordang Sambilan ini turut serta dihadiri oleh Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, Muspida Kabupaten Mandailing Natal, Plt. Kakan Kemenag Mandailing Natal dan Ketua dan Anggota Dewan Pengurus Majelis Adat Budaya Mandailing Natal.

Bupati Mandailing Natal dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekda Madina menyebutkan Gordang Sambilan merupakan musik tradisional warisan leluhur bangsa Mandailing Natal yang menggambarkan suatu Pemerintahan dan Keragaman struktur sosial kehidupan masyarakat juga gambaran kepatuhan masyarakat terhadap Pimimpin (Raja) sesuai dengan hukum dan peraturan yakni adat, uhum dan ugari.

Gordang Sambilan ini berjumlah sembilan gendang yang masing-masingnya meiliki ukuran berbeda dan merupakan simbol sembilan tokoh dalam struktural masyarakat sesuai dengan fungsi dan tingkatannya. Para tokoh tersebut disimbolkan dengan satu buah gordang yang ukuran besarnya sesuai dengan tingkatan dan funsi tokoh tersebut dalam masyarakat.

Bulan Agustus lalu Mandailing Natal telah mendapatkan Rekor MURI sebagai ‘Penabuh Gordang Sambilan terbanyak. saat ini kita menyaksikan Festival Gordang Sambilan tingkat Madrasah Aliyah terbesar di Sumateta Utara.

event seperti ini perdana dilaksanakan Madrasah segebyar ini, diharapkan dapat menjadi wahana untuk menumbuhkan semangat dan motivasi kita terutama anak-anak MAN dalam upaya mencintai, melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya yang hidup tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat Mandailing.

Langkah tersebut perlu dilakukan agar nilai-nilai budaya positif yang telah diwariskan oleh para leluhur tidak luntur dan sirna oleh pengaruh budaya luar yang negatif sehingga dapat menyebabkan pemuda-pemudi kita kehilangan jati diri.

Tim Redaksi